Rabu, 24 Agustus 2016



Rayuan si puntung
Oleh : Aris Mulyani

Senja kini menyemburat perlahan menghampiri sang malam
Dalam naungan rembulan yang tengah bertahta mengadu cinta
Aku mendengarkan rayuan menggiurkan jiwa
Kau memintaku mencintaimu sepanjang waktu
Kau menggodaku dengan asap yang melelehkan batinku
Tak kusangka kupenuhi inginmu
Tak kusangka aku terlalu dalam bercinta dengan puntungmu yang molek
Aku terjerat pada nafsu memilikimu seutuhnya
Lidahku bahkan kelu jika sedetik saja tak mencicipi nuansamu
Sekian lama aku bergelut dengan duniamu
Pekerjaan menuntutku untuk mengasuhmu seumur hidupku
Tapi kini kau lebamkan paru-paru jiwaku yang kian menua
Kau membunuh harapan setiap jiwa yang tak berdosa
Padahal dulu kau merayunya penuh bahagia
Kini aku mati bersama benci yang kulabuhkan padamu
Betapa aku menyesal pernah menyentuh ragamu
Aku kini mati berlumur penyesalan
Jika saja aku tak menuruti rayuanmu
Mungkin aku tak akan memutuskan harapanku

Semarang, 20 maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar