Rayuan si puntung
Oleh : Aris Mulyani
Senja kini menyemburat perlahan
menghampiri sang malam
Dalam naungan rembulan yang tengah
bertahta mengadu cinta
Aku mendengarkan rayuan menggiurkan
jiwa
Kau memintaku mencintaimu sepanjang
waktu
Kau menggodaku dengan asap yang
melelehkan batinku
Tak kusangka kupenuhi inginmu
Tak kusangka aku terlalu dalam
bercinta dengan puntungmu yang molek
Aku terjerat pada nafsu memilikimu
seutuhnya
Lidahku bahkan kelu jika sedetik
saja tak mencicipi nuansamu
Sekian lama aku bergelut dengan
duniamu
Pekerjaan menuntutku untuk
mengasuhmu seumur hidupku
Tapi kini kau lebamkan paru-paru
jiwaku yang kian menua
Kau membunuh harapan setiap jiwa
yang tak berdosa
Padahal dulu kau merayunya penuh
bahagia
Kini aku mati bersama benci yang
kulabuhkan padamu
Betapa aku menyesal pernah menyentuh
ragamu
Aku kini mati berlumur penyesalan
Jika saja aku tak menuruti rayuanmu
Mungkin aku tak akan memutuskan
harapanku
Semarang, 20 maret 2016