Rabu, 24 Agustus 2016



Rayuan si puntung
Oleh : Aris Mulyani

Senja kini menyemburat perlahan menghampiri sang malam
Dalam naungan rembulan yang tengah bertahta mengadu cinta
Aku mendengarkan rayuan menggiurkan jiwa
Kau memintaku mencintaimu sepanjang waktu
Kau menggodaku dengan asap yang melelehkan batinku
Tak kusangka kupenuhi inginmu
Tak kusangka aku terlalu dalam bercinta dengan puntungmu yang molek
Aku terjerat pada nafsu memilikimu seutuhnya
Lidahku bahkan kelu jika sedetik saja tak mencicipi nuansamu
Sekian lama aku bergelut dengan duniamu
Pekerjaan menuntutku untuk mengasuhmu seumur hidupku
Tapi kini kau lebamkan paru-paru jiwaku yang kian menua
Kau membunuh harapan setiap jiwa yang tak berdosa
Padahal dulu kau merayunya penuh bahagia
Kini aku mati bersama benci yang kulabuhkan padamu
Betapa aku menyesal pernah menyentuh ragamu
Aku kini mati berlumur penyesalan
Jika saja aku tak menuruti rayuanmu
Mungkin aku tak akan memutuskan harapanku

Semarang, 20 maret 2016


Malaikat tuaku
Oleh : Aris Mulyani
 
Engkau sosok nur yang di turunkan Azza wa jalla padaku
Malaikat yang membawaku ke alam yang baru
Menikmati birunya langit bersamamu menjadi bahagiaku
Kaulah anugerah terindah dalam kehidupanku
Terkadang aku benci dengan celotehmu
Kututup rapat daun telingaku sampai tuli yang kurasa
Maaf malaikat tuaku….
Tanpa sadar serpihan luka itu membuncah dalam jiwamu
Ego dan kebencian kala itu merasuki jiwaku
Tak sadar diriku menyayat luka pedih dalam hatimu
Oh malaikat tuaku…
Usiamu kini kian mendekati senja
Hemoglobin dalam darahmu pun mulai memudar
fisikmu mulai renta
Kerut dikening dan pipi menjadi bukti pengorbananmu
Kini tangan halus itu menjadi kasar
Sebab kerasnya memahat bongkahan batu kehidupan
 Tenagamu habis dimakan waktu
Hingga mengangkat tulang yang rapuh itupun kau tak sanggup
Oh Malaikat tuaku….  
Kaki lunglai itu terus kau seret mengejar harapan
Penglihatan kabur kau paksakan menatap masa depan
Jelaslah guratan-guratan penderitaan itu terlukis dalam parasmu
Oh malaikat tuaku….
Terimakasih atas sinar harapan yang kau tebarkan dilangit asaku
Derasnya ombak tak kan menghempas tubuh kecilku
Karena dentum kejayaan akan kulabuhkan untukmu
Duhai malaikat tuaku…

Selasa, 23 Agustus 2016

Sajak Puisi



Menjemputmu
Oleh : Aris Mulyani
Parasmu tak cukup rupawan dan menawan 
Namun hati emas meluluhkan kalbu yang membeku
Kokoh iman kau jadikan tonggak melayari hidup
Berjalan diatas jalan kedamaian
Menaburkan kuncup kerinduan
Aku teringin menjemputmu dalam tasbihku
Menjadikanmu pengemudi jiwa
Aku teringin menumpangkan benih cinta di dadamu
Menjadi  penyempurna imanku
Menjemput takdir sang pemilik cinta
Bersama kita abadi dalam ridhanya



Dengarlah … 
oleh : Aris Mulyani 
 
Nyanyian pilu stomata semakin lemah terdengar
sang penopang mulai meronta
Desahan rerimbunan daun tak tertahankan
Mereka meraung  menyimpan api kebencian
Harapannya  sirna begitu saja 
Rasa putus asa membuncah dalam jiwa
Wahai para iblis pemburu akar
Teganya kalian melalap habis semua paru-paru dalam bumi ini
Dengarlah….
Tetesan airmata dari celah dedaunan itu mengalir deras
Dahan-dahannya melesat , terbakar hawa nafsu
Padahal mereka tak pernah mengganggu kehidupan makhluk lain
Bahkan mereka sang paru-paru dunia , penyelamat jiwa
Memberikan sejuta hawa segar secara percuma
Tak bisakah para iblis mendengar kesetiaanya ?
Mengapa para iblis terus saja menyayat luka pedih
Dengarlah..
Mereka ingin menghirup kehidupan dengan bahagia
Hidup damai dalam dekapan hangat sang mentari pagi
Dan tatapan sang purnama dan kejora yang menemaninya dikala malam
Mohon dengarlah rintihan mereka….